Kamis, 08 November 2012

5 kriteria Suami Berhasil Yang Perlu Diketahui Wanita


Cinta dan rumah tangga merupakan salah satu kebutuhan psikis yang bersifat primer atau pokok bagi semua orang termasuk bagi  wanita. Karena wanita pasti mendambakan cinta dan hidup berumah tangga, seperti ketika kita lapar dan membutuhkan  makanan.
suami berhasilNamun sebelum memutuskan untuk berumah tangga, tentunya seorang wanita harus memilih lelaki yang akan menjadi  suaminya. Oleh karena itu ada baiknya para wanita untuk mencermati 5 kriteria seorang lelaki akan menjadi suami yang  berhasil bagi wanita :
1. Berhasil dalam menanamkan perasaan aman yang hakiki dalam diri sang istri. Dan jika sang istri punya persiapan menjadi  wanita salihah, niscaya sang istri akan menjadi wanita salihah. Hal paling penting yang dibutuhkan seorang wanita adalah  perasaan aman dan nyaman. Saat kehilangan perasaan-perasaan seperti ini  seorang istri akan mengalami goncangan jiwa.  Sementara itu, suami yang hakiki adalah orang yang mampu menciptakan perasaan-perasaan ini. Nah, sumber pertama rasa aman  seorang istri adalah cinta yang tulus dari sang suami.
2. Seyogianya, sumber kekuatan suami adalah kejujurannya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa laki-laki yang jujur adalah  laki-laki super, dengan syarat ia berlaku jujur terhadap diri sendiri, orang lain dan terhadap wanita yang menjadi  istrinya. Orang yang jujur adalah orang yang berbudi pekerti luhur.
3. Mampu menunaikan tanggung jawab, yaitu tanggung jawab kehidupan terhadap diri sendiri, istri dan keluarga. Pada umumnya  rasa tanggung jawab timbul dari keinginan yang penuh kesadaran. Yaitu keinginan bebas yang berarti sadar akan peran, nilai  dan urgensitas dirinya.
4. Suami yang berhasil adalah suami yang sukses bekerja, percaya diri dengan pekerjaannya, menekuni dan menerimanya dengan  penuh rasa cinta. Seperti kita ketahui bahwa ada hubungan kuat yang mengikat pekerjaan, cinta dan kehidupan rumah tangga  seseorang mengapa? Karena kesuksesannya bekerja dapat memperkaya kehidupan rumah tangga dan keberhasilannya membangun rumah  tangga dapat memperkaya pekerjaannya. Begitulah ada hubungan yang saling mempengaruhi secara langsung yang dapat menjaga  keseimbangan psikis suami istri. Selain juga menjaga ketenangan hidup berumah tangga dan menjadi salah satu faktor penopang  keberhasilannya.
5. Bangunan akhlaknya terpuji, yang dipantulkan oleh sisi batin yang bersih, bersumber dari jiwa mulia dan luhur, sebagai  sumber nilai-nilai akhlak terpuji. Diantara akhlak tersebut adalah : menjaga harga diri, dapat dipercaya, penuh kasih sayang,  toleran dan mulia. Sebagaimana yang kita keyahui juga bahwa manusia tidak bisa dipilah-pilah. Demikian pula akhlak tidak dapat kita kotak-kotakkan. Jadi barang siapa yang tidak dapat dipercaya dalam kehidupannya secara umum, maka pasti ia tidak dapat dipercaya dalam kehidupannya yang khusus dengan satu ragam ataupun berbeda. dan bersama dengan jiwa yang terpuji dan luhur, akhlak dapat membangkitkan tingkat kenyamanan yang paling tinggi pada diri sang istri
Ibu Lin 26 July 2012

Menjadi Istri Yang Baik


Istri Yang Baik – Bagaimana caranya?

Cara Menjadi Istri yang Baik – Pasti semua wanita yang ingin menikah pada mencari tips gimana caranya supaya mereka menjadi istri yang baik buat suami mereka kelak. Namun, bukan hanya untuk wanita yang ingin menikah saja, tips berikut juga berlaku buat wanita udah menjadi istri, loh. Setiap wanita kan punya hak untuk melakukan perubahan terhadap diri mereka, apalagi jika perubahan itu bersifat positif. Bener tidak? Oke, deh, jangan dilama-lamain yah. Berikut kita kasi tips buat kamu wanita agar menjadi seorang istri yang baik buat suami.

1. Mencintai

Udah pasti dong yah? Kalau bukan karena cinta, kan ga mungkin kita memulai suatu hubungan. Namun, tidak dipungkiri juga ada beberapa wanita yang melakukannya bukan karena cinta. Segeralah berubah! Cinta harus ada agar hubungan berjalan langgeng. Cinta akan menimbulkan hal positif seperti kesetiaan, rasa saling menghormati serta menghargai.

2. Tulus

Jika kamu tulus, maka tujuan kamu untuk menjadi istri yang baik pasti akan tercapai dengan mudah. Karena ketulusan akan membuat kamu melakukan apapun yang menyenangkan satu sama lain tanpa mengharapkan balasan apaun. Dan setiap hal yang kamu lakukan berdasarkan cinta yang tulus kepada suami kamu pasti akan sangat dihargai olehnya. Mau dong dihargai suami?

3.Memiliki peran

Meskipun pernikahan itu terjadi karena adanya komitmen antara 2 orang yakni kamu dan suami, namun tidak perlu melakukan semua hal secara bersama-sama. Ingat, kalian masing-masing punya peran yang harus kalian jalankan. Peran di sini bukan hanya di bidang karier, yakni jika suami memiliki karier yang bagus maka kamu sebagai istri juga harus. Sebaliknya, peran kamu sebagai ibu yang baik akan sangat disenangi oleh suami. Cara mendidik anak kalian. Tentu suami akan sangat bangga jika anak kalian berprestasi dan prestasi anak bergantung banyak dari cara kamu mengajar anak. Peran kamu lebih banyak dalam mengurus anak.

4. Berempati

Dalam suatu pernikahan pasti cepat atau lambat akan timbul masalah antara kamu dan suami. Kalian berdua adalah manusia yang tidak sempurna. Akan ada kamu temui sesuatu yang gak kamu suka dari suami. Untuk itu, persiapkan mental jika suatu saat kamu mengalaminya. Kamu harus berempati. Bukan hanya perasaan kamu yang harus kamu perhatikan, tapi juga perasaan suami. Dengan adanya empati, kalian akan bisa saling mengerti sehingga masalah apapun bisa dihadapi, pernikahan pun akan terus berlanjut.

5. Mendengarkan

Kelihatannya sih hal yang sepele. Namun, dapat dipastikan bahwa kebanyakan kerusakan rumah tangga serta ketegangan yang terjadi antara suami dan istri diakibatkan oleh kurangnya komunikasi. Suami juga perlu perhatian dari istri untuk didengarkan keluh kesahnya. Perlu kamu ketahui bahwa suami juga bisa merasa kesepian, sehingga kamu perlu meluangkan waktu untuk mendengar apa yang ada di dalam hati suami sesungguhnya.

6. Jadikan suami sebagai ‘sandaran’

Saat kamu mengalami suatu kesulitan serta mungkin kamu punya keluhan, beritahukan kepada suami terlebih dahulu. Jadikan dia sebagai sandaran hidup kamu. Suami akan merasa sangat senang ketika dia mengetahui bahwa kamu membutuhkannya.

7. Lemah lembut

Sudah hakikatnya bagi wanita untuk selalu bersikap lembut, sebenarnya bukan hanya kepada suami saja. Berlakulah lemah lembut kepada suami, perlihatkan rasa hormat. Dan jangan pernah mengejek atau merendahkan dia pada saat apapun, bahkan ketika dia tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Sikap kamu akan membuat kamu sangat disayangi olehnya.

8. Berbagi

Berbagi tidak hanya bermakna materi, namun juga dalam soal peran, waktu, perasaan. Semua itu bisa kamu bagi dengannya. Karena, ketika kalian sudah menikahTidak ada lagi istilah saya ataupun dia, melainkan “kita” !

9. Menjadi diri sendiri

Namun, kamu juga perlu menjadi diri kamu sendiri. Jangan pernah memakai topeng, berpura-pura apalagi berbohong kepada suami. Kamu tidak perlu menjadi orang lain agar dicintai oleh suami. Diri kamu adalah terbaik buat dia. Menjadi istri yang baik bukan berarti kamu menghilangkan karakter asli kamu demi menjadi apa yang kamu pikir dia inginkan.

Rabu, 07 November 2012

Karena Allah

InsyaAllah mencintai karena Allah.. jarang kita mengalami kesedihan
karena mencintai sesuai standarnya saja
ketika dia jauh... percayakan pengawasan dan perlindungannya karena Allah
ketika dia dekat... layani, taati, bahagiakan sepenuh hati karena Allah pula
Maka.. hati hati dalam mencinta..
kau harus bisa membedakan cinta atau kepemilikan sebenarnya tak sama
pandai pandai sajalah kita mengatur perasaan..
bahwa Rabb kita adalah cinta tertinggi
ketika DIA memerintahkan bertemu atau berpisah
insyaAllah hati ikhlas.. karena kita tak pernah mencintai secara berlebih lebihan
sebab cinta yang lebih itu hanya tertuju kepada Rabb kita..
soo... belajar standarkan cinta mu...
karena semua adalah milik Allah.. maka cinta yang datangpun suatu saat akan berpisah karena Allah
dan semoga kelak di surga dipertemukan karena Allah
tiada beban kawan... jika kau mencintai karena Allah...

Senin, 05 November 2012

KEADILAN DALAM POLIGAMI




“Barangsiapa yang memiliki dua orang istri lalu cenderung kepada salah satunya dan mengabaikan yang lainnya, maka kelak di akhirat akan berjalan dalam keadaan miring” (HR Ahmad)

Saat ini masyarakat memandang poligami sebagai virus yang harus dijauhi. Padahal di zaman Rasulullah SAW, bahkan juga para Nabi-nabi sebelumnya telah menjalankan praktek ini. Banyak para ahli berdalih poligami dibolehkan dengan syarat. Syaratnya adalah adil, kemudian mereka berkesimpulan bahwa tidak akan ada yang sanggup untuk berbuat adil, kecuali Rasulullah karena beliau adalah manusia sempurna. Benarkah demikian? Perlu rasanya kita mengkaji lebih dalam mengenai hal ini. Berikut adalah intisari dari sebuah buku yang berjudul “Memahami Keadilan dalam Poligami”, karya Arij Abdurrahman As-Saman.

Para ulama bersepakat bahwa definisi adil terhadap para istri adalah tidak zalim (berat sebelah) dalam berlaku baik dan memenuhi semua hak-hak mereka, yaitu dalam menggilir dan semua jenis nafkah lahir baik makan, minum, pakaian maupun tempat tinggal.

Sedangkan keadilan dalam hal-hal yang berada di luar kendali suami atau di luar kesanggupannya, seperti rasa cinta, kecenderungan hati dan hubungan suami-istri semua itu bukan menjadi kewajiban.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra bahwa ia berkata: Rasulullah SAW membagi untuk para istrinya dan berlaku adil, beliau bersabda: “Ya Allah, inilah pembagian yang menjadi kuasaku, maka janganlah Engkau cela aku dalam hal-hal yang Engkau Kuasai dan tidak aku kuasai. Yaitu masalah hati” (HR Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah).

  • Keadilan dalam Mabit (Giliran)

Yang dimaksud dengan mabit adalah keberadaan suami bersama istrinya di tempat tinggal istrinya itu meskipun tanpa berbaring atau tidur bersama di peraduan mereka. Tapi ini dilakukan secara adil ke semua istri. Artinya ketika suami memutuskan untuk menggilir istrinya satu malam, maka kepada istri yang lain pun harus sama satu malam juga.  Dan waktu utama menggilir adalah di malam hari, sementara siang hari adalah waktu tambahan. Aisyah ra berkata: “Rasulullah SAW wafat di rumahku, pada hariku dan beliau wafat di siang hari”. Kecuali bagi suami yang bekerja penuh di malam hari, maka siangnya adalah malamnya.

Istri boleh menghadiahkan gilirannya kepada madunya agar suaminya ridha terhadapnya. Saudah binti Zum’ah ra tatkala di usia senja, beliau datang menemui Rasulullah SAW dan berkata: “Ya Rasulullah, aku sudah puas menjadi salah satu istrimu, maka jangan engkau ceraikan aku, kuhadiahkan saja jatah gilirku untuk Aisyah”. Ia melakukannya untuk menyenangkan hati Rasulullah SAW, karena ia tahu bahwa beliau SAW amat mencintai Aisyah ra.

Kemudian turunlah ayat
“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik” (QS. An-Nisa:128).

Maka Rasulullah SAW menggilir Aisyah ra dua hari, sedang yang lainnya satu hari.

Ibnu Majah meriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW mendapati sesuatu (yang kurang beliau sukai) dari Shaffiyyah binti Huyay. Shafiyyah berkata kepada Aisyah ra, “Maukah kamu membuat Rasulullah senang kepadaku, dan jatahku untukmu?”, lalu Aisyah mengambil kerudung yang sudah diberi pengharum, dan ia kebatkan agar harumnya menyebar, kemudian dipakainya, lalu duduk di sisi Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Tunggu dulu wahai Aisyah, hari ini bukan jatahmu”. Aisyah menjawab: “Itu adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendakinya”. Lalu Aisyah memberitahu Rasulullah SAW masalahnya, dan beliau pun senang kepadanya.

  • Keadilan dalam Bepergian Jauh

Ketika suami hendak bepergian jauh, maka ia berhak menentukan apakah akan mengajak semua istrinya atau hanya sebagian saja. Jika sebagian, maka harus ditentukan dengan undian, seperti yang biasa Rasulullah SAW lakukan ketika hendak bepergian.
Aisyah ra berkata: “Bahwa bila Nabi SAW ingin bepergian, beliau mengundi para istri beliau, siapapun yang keluar undiannya, dialah yang ikut bersama beliau SAW” (HR Bukhari).

Sebagai tambahan, atau dengan keikhlasan para istri.

  • Keadilan dalam Cinta  dan Hubungan Badan

Para ulama sepakat bahwa suami tidak wajib berlaku adil dalam hal-hal yang tidak mampu ia kendalikan seperti hubungan badan, karena hubungan badan tergantung kepada rangsangan dan nafsu yang tidak dapat dikendalikan suami. Adil dalam hubungan badan tidak diwajibkan selama suami tidak sengaja bermaksud menzalimi istrinya.

Kecenderungan hati pun termasuk yang tidak diwajibkan untuk berlaku adil di dalamnya, karena manusia tidak bisa mengendalikan bisikan hati. Inilah maksud firman Allah SWT:
“Kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isti-isti (mu), walaupun kau sangat ingin berbuat demikian” (QS An-Nisa:129).

Al-Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat ini: “Allah SWT memberitahukan ketidakmampuan suami berlaku adil terhadap istri-istri dalam hal cinta, hubungan badan dan tempat di hati suami. Allah menjelaskan keadaan manusia yang tidak mampu mengendalikan kecenderungan hatinya kepada salah seorang istri dibanding yang lain”

  • Keadilan dalam Nafkah

Dalil dari al-Qur’an
“Dan kewajiban yang diberi anak (ayah) memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” (QS Al-Baqarah:233).
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya”(QS Al-An’am:7).

Dalil Sunnah
Dari Jabir bin Abdillah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda pada khutbah haji wada’: “Bertaqwalah kamu kepada Allah dalam masalah istri-istrimu, karena mereka adalah penolong dan amanat bagimu. Kalian telah memperistri mereka dengan amanat Allah, dan telah halal kemaluan mereka untuk kalian dengan kalimat Allah. Kewajiban mereka kepada kalian adalah tidak membiarkan orang lain yang tidak kamu sukai menempati tempat tidurmu, jika itu mereka lakukan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Dan kewajiban kalian terhadap mereka adalah member i makan dan pakaian dengan cara yang ma’ruf” (HR Muslim dan Abu Dawud).

Minggu, 04 November 2012

MALAM PERTAMA

Menjadi pasangan pengantin baru merupakan kebahagian tersendiri bagi kedua mempelai. Rasa bahagia itu begitu menyentuh qalbu yang paling dalam, hati seakan tak mampu menampung rasa bahagia yang telah meluap memenuhi relung hati. Namun begitu, kebahagian menjadi pengantin baru akan terasa lebih sempurna tatkala telah melewati kebersamaan dimalam pertama dengan penuh cinta. Malam dimana seseorang bisa menyalurkan hasratnya melalui jalan yang diridhai Allah. Sehingga, dengannya tak sekedar kenikmatan yang diperoleh tapi juga pahala dapat diraih. Nilai pahala akan lebih bertambah seiring bertambahnya rasa kasih dan sayang antara kedua mempelai manakala berhias dengan adab-adab saat menuju peraduan cinta, sebagaimana yang dituntunkan Nabi shallallahu a’laihi wasallam sebagai pembawa syariat Islam yang sempurna.
Diantara adab-adabnya adalah sebagai berikut :
  1. Sebelum bermalam pertama, sangat disukai untuk memperindah diri masing-masing dengan berhias, memakai wewangian, serta bersiwak.
  • Berdasarkan sebuah hadits dari Asma’ binti Yasid radhiyallaahu ‘anha ia menuturkan, “Aku merias Aisyah untuk Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam. Setelah selesai, aku pun memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun duduk di sisi Aisyah. Kemudian diberikan kepada beliau segelas susu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminum susu tersebut dan menyerahkannya pada Aisyah. Aisyah menundukkan kepalanya karena malu. Maka segeralah aku menyuruhnya untuk mengambil gelas tersebut dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [HR Ahmad, sanad hadits ini dikuatkan oleh Al-Allamah Al-Muhadits Al-Albani  dalam Adabul Zifaf]. 
  • Adapun disunnahkannya bersiwak, karena adab yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau selalu bersiwak setiap setiap hendak masuk rumah sebagaimana disebutkan oleh Aisyah radhiyallaahu ‘anha dalam Shahih Muslim. Selain itu akan sangat baik pula jika disertai dengan mempercantik kamar pengantin sehingga menjadi sempurnalah sebab-sebab yang memunculkan kecintaan dan suasana romantis pada saat itu.
  1. Hendaknya suami meletakkan tangannya pada ubun-ubun istrinya seraya mendoakan kebaikan dengan doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan :

اللّهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya (istri) dan kebaikan tabiatnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan tabiatnya.”[HR. Bukhari dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallaahu 'anhu].
  1. Disunnahkan bagi keduanya untuk melakukan shalat dua rakaat bersama-sama. Syaikh Al Albani dalam Adabuz Zifaf menyebutkan dua atsar yang salah satunya diriwayatkan oleh Abu Bakr Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf dari sahabat Abu Sa’id, bekat budak sahabat Abu Usaid, beliau mengisahkan bahwa semasa masih menjadi budak ia pernah melangsungkan pernikahan. Ia mengundang beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr, dan Hudzaifah.
Abu Sa’id mengatakan, “Mereka pun membimbingku, mengatakan, ‘Apabila istrimu masuk menemuimu maka shalatlah dua rakaat. Mintalah perlindungan kepada Allah dan berlindunglah kepada-Nya dari kejelekan istrimu. Setelah itu urusannya terserah engkau dan istrimu. “Dalam riwayat Atsar yang lain Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu mengatakan, perintahkan isrtimu shalat dibelakangmu.”
  1. Ketika menjumpai istri, hendaknya seorang suami berprilaku santun kepada istrinya semisal dengan memberikan segelas minuman atau  yang lainnya sebagimana dalam hadits di atas, bisa juga dengan menyerahkan maharnya. Selain itu hendaknya si suami untuk bertutur kata yang lembut yang menggambarkan kebahagiaannya atas pernikahan ini. Sehingga hilanglah perasaan cemas, takut, atau asing yang menghinggapi hati istrinya. Dengan kelembutan dalam ucapan dan perbuatan akan bersemi keakraban da keharmonisan di antara keduanya.
  1. Apabila seorang suami ingin menggauli istrinya, janganlah ia terburu-buru sampai keadaan istrinya benar-benar siap, baik secara fisik, maupun secara psikis, yaitu istri sudah sepenuhnya menerima keberadaan suami sebagai bagian dari dirinya, bukan orang lain. Begitu pula ketika suami telah menyelesaikan hajatnya, jangan pula dirinya terburu-buru meninggalkan istrinya sampai terpenuhi hajat istrinya. Artinya, seorang suami harus memperhatikan keadaan, perasaan, dan keinginan istri. Kebahagian yang hendak ia raih, ia upayakan pula bisa dirasakan oleh istrinya.
  1. Bagi suami yang akan menjima’i istri hanya diperbolehkan ketika istri hanya diperbolehkan ketika istri tidak dalam keadaan haid dan pada tempatnya saja, yaitu kemaluan. Adapun arah dan caranya terserah yang dia sukai. Allah berfirman yang artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, “Haid itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhi (tidak menjima’i) wanita diwaktu haid, dan janganlah kalian mendekati (menjima’i) mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu pada tempat yang diperintahkan Allah kepad kalian (kemaluan saja). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat itu bagaimana saja kalian kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk diri kalian, bertakwalah kepada Allah, ketahuilah bahwa kalian kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” [Q.S. Al Baqarah: 222-223].
Ingat, diharamkan melalui dubur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Barang siapa yang menggauli istrinya ketika sedang haid atau melalui duburnya, maka ia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.” [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud]. Kata ‘kufur’ dalam hadits ini menunjukkan betapa besarnya dosa orang yang melakukan hal ini. Meskipun, kata para ulama, ‘kufur’ yang dimaksud dalam hadits ini adalah kufur kecil yang belum mengeluarkan pelakunya dari Islam.
  1. Telah kita ketahui bersama bahwa syaitan selalu menyertai, mengintai untuk berusaha menjerumuskan Bani Adam dalam setiap keadaan.Begitu pula saat jima’, kecuali apabila dia senantiasa berdzikir kepada Allah. Maka hendaknya berdo’a sebelum melakukan jima’ agar hal tersebut menjadi sebab kebaikan dan keberkahan. Do’a yang diajarkan adalah:

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.”[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallaahu 'anhu]. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa seandainya Allah mengkaruniakan anak, maka syaithan tidak akan bisa memudharati anak tersebut. Al Qadhi menjelaskan maksudnya adalah syaithan tidak akan bias mearsukinya. Sebagaimana dinukilkan dari Al Minhaj.
  1. Diperbolehkan bagi suami dan istri untuk saling melihat aurat satu sama lain. Diperbolehkan pula mandi bersama. Dari Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana dan kami berdua dalam keadaan junub.” [HR. Al Bukhari dan Muslim.]
  1. Diwajibkan bagi suami istri yang telah bersenggama untuk mandi apabila hendak shalat. Waktu mandi boleh ketika sebelum tidur atau setelah tidur. Namun apabila dalam mengakhirkan mandi maka disunnahkan terlebih dahulu wudhu sebelum tidur. Berdasarkan hadits Abdullah bin Qais, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah, ‘Apa yang dilakukan Nabi ketika junub? Apakah beliau mandi sebelum tidur ataukah tidur sebelum mandi?’ Aisyah menjawab, ‘Semua itu pernah dilakukan Rasulullah. Terkadang beliau mandi dahulu kemudian tidur dan terkadang pula beliau hanya wudhu kemudian tidur.”[HR. Ahmad dalam Al Musnad]
  1. Tidak boleh menyebarkan rahasia ranjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya diantara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang mendatangi istrinya dan istrinya memberikan kepuasan kepadanya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.” [HR. Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallaahu 'anhu]
Dari poin-poin yang telah dijelaskan nampaklah betapa agungnya kesempurnaan syariat Islam dalam mengatur semua sisi kehidupan ini. Sehingga pada setiap gerak hamba ada nilai ibadah yang bisa direngkuh pahalanya. Tidak sekedar aktivitas rutin tanpa faedah, tak semua pemenuhan kebutuhan tanpa hikmah. Oleh sebab itu tak ada yang sia-sia dalam mengikuti aturan Ilahi  dan meneladani sunnah Nabi. Semuanya memiliki makna serta mengandung kemaslahatan, karena datangnya dari Allah Dzat Yang Maha Tinggi Ilmu-Nya lagi Maha sempurna Hikmah-Nya. Maka dari itu syariat yang Allah turunkan selaras dengan fitrah hamba-Nya sebagai manusia, sebagimana disyariatkan pernikahan.
Kesempurnaan syariat Islam ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Allah terhadap hamba-Nya melebihi perhatian hamba terhadap dirinya sendiri. Oleh karenanya, hendaklah setiap hamba tetap berada di atas fitrah tersebut di atas agama allah agar dirinya selalu berada di atas jalan yang lurus, “(Tetaplah di atas fitrah) yang Allahtelah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” [QS. Ar Rum: 30]. Allahu a’lam.

MESRA SELALU SEPERTI PENGANTIN BARU


Semakin bertambahnya usia perkawinan, hubungan Anda dan pasangan biasanya akan semakin solid dan bisa saling mengandalkan.
Tetapi, terkadang, hubungan perkawinan yang telah berjalan bertahun-tahun membuat orang sering melupakan karunia cinta yang sudah dimiliki.
Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda ambil untuk memastikan Anda dan pasangan akan selalu saling menghargai cinta berdua.
  1. Mensyukuri hal kecil.
  2. Lewatkan rutinitas dengan meluangkan waktu untuk berdua.
  3. Katakan “Saya cinta kamu” dengan mesra.
  4. Selalu bersih dan rapi.
  5. Tatapan mesra.
  6. Lakukan hal kecil yang berarti.
  7. Mencintainya setiap saat.
  8. Beri sentuhan mesra.
Ga ada salahnya memanjakan pasangan dengan sedikit perhatian dan sentuhan, semoga bisa memberi manfaat .. selamat mencoba >,<

JADILAH PENGANTIN BARU SEUMUR HIDUP


Jadilah Pengantin Baru Seumur HidupAllah -ta'ala- berfirman :

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ
Artinya: "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu". (QS. Al-Baqoroh [2]:187(

Ayat tersebut di atas adalah ayat populer yang sering dibaca, dikutip dan dikaji ketika akan datang dan selama bulan Ramadhan. Ayat tersebut menerangkan tentang beberapa aturan ketika berada di bulan Ramadhan. Salah satu aturan tersebut adalah dihalalkannya seorang suami melakukan hubungan badan dengan istrinya kapanpun di sepanjang malam hingga terbit fajar. Sebelum ayat ini turun, batas akhir boleh menggauli istri adalah masuk waktu Isya' atau saat tidur sebelum masuk waktu Isya'. Tentu ini sangat berat bagi para sahabat Rasulullah, dan tentu juga bagi siapa saja. Oleh karena itu Allah -ta'ala- menurunkan ayat tersebut.

Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah kata “Libas” yang tersebut dalam ayat tersebut. Dalam ayat tersebut Allah -ta'ala- menyebut bahwa suami adalah Libas bagi istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya. Kata “Libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.

Penutup Aib dan Perhiasan
Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh (lihat QS.7:26). Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah penutup "aurat" (baca: aib) bagi pasangannya. Fungsi pakaian juga sebagai perhiasan (lihat QS.7:26). Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.
Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran [3]:14)

Sumber Ketentraman dan Kesenangan
Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.
 berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.Ar-Ruum [30]:21)

Suami adalah sumber kesenangan bagi istri. Begitu juga istri adalah sumber kesenangan bagi suami.
Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran[3]:14)
Allah berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqaan [25]:74)
Di dalam kedua ayat tersebut, Allah -ta'ala- berfirman dengan menyebutkan kata “wanita” dan “istri” saja, tidak menyebutkan kata “pria” dan “suami”. Seolah-olah dua ayat tersebut hanya ditujukan dan berlaku untuk pria dan suami. Meskipun kata “pria” dan “suami” tidak disebutkan, kedua ayat di atas juga ditujukan dan berlaku bagi para wanita dan istri, sehingga bisa dipahami juga sebagai berikut:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: pria-pria….”
Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami suami-suami kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)…”
Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengan istrinya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya.
10 Tips Sukses Menjadi Libas bagi Pasangan
1.       selalu mendengar dengan segenap dan setulus hati setiap kata yang diekspresikan oleh pasangan.
2.       Selalu ramah, mesra, bermuka manis dan tersenyum di hadapan pasangan.
3.       Berdandan, berpenampilan rapi dan berbau harum untuk pasangannya baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Bukan istri saja yang wajib melakukan ini, namun suami juga harus mewajibkan dirinya.
4.       Menenangkan hati pasangan ketika dia merasa emosional dan ketika menghadapi ketegangan, kecemasan dan ketakutan; dan menghibur hati pasangan ketika dia kecewa, bersedih hati, sakit hati dan sakit fisiknya
5.       Biasakan mengucapkan "4 Kata Ajaib: Terima kasih, Maaf, Permisi dan Tolong" kepada pasangan pada setiap saat dan kesempatan di mana kata-kata tersebut patut dan perlu untuk diucapkan.
6.       Melayani keperluan pasangan dengan senang dan ringan hati, ringan tangan, ringan kaki dan segera. Segera kerjakan jika dalam keadaan-keadaan yang memungkinkan. Malas dan ogah-ogahan bukan termasuk di dalamnya. Bukan istri saja yang harus melayani suami. Suami juga harus melayani istri meskipun istri tidak dalam keadaan darurat seperti sakit, mengandung dan melahirkan.
7.       Tanyakan kabar dan perasaan pasangan meskipun tidak sedang berjauhan.
8.       Ungkapkan rasa cinta dan kasih sayang anda kepada pasangan dengan sikap dan perilaku seperti bergandengan tangan ketika berjalan kaki bersama dan menciumnya meskipun ketika tidak ada dorongan nafsu, dengan kata-kata seperti "Aku cinta/sayang kamu", dan dengan memanggilnya dengan nama panggilan yang indah serta dengan cara yang lemah lembut dan mesra.
9.       Memuaskan pasangan dalam berhubungan badan dengan melakukan segala hal yang diperlukannya sesuai dengan tuntunan Islam.
10.   Tidak menceritakan hubungan badan mereka kepada orang lain. Tidak menceritakan aib yang dimiliki pasangan berupa kekurangan, kelemahan, kesalahan dan hal-hal negatif lainnya kepada orang lain (kecuali kepada hakim ketika bersaksi di pengadilan, kepada dokter untuk tujuan pengobatan dan kepada kyai, ustadz, psikiater atau konsultan untuk tujuan konsultasi). Juga tidak mencari-cari, mengingat-ingat, serta mengungkit-ungkit atau menyebut aib yang dimiliki pasangan kepada pasangan.

Jadilah Libas bagi pasangan (baca: suami atau istri) anda sesuai dengan tuntunan Allah -ta'ala-. Untuk itu jadilah "Pengantin Baru" selama hayat masih dikandung badan karena mengharap dan demi menggapai ridho Allah -ta'ala-. Lakukan tips di atas terus menerus meskipun sudah bukan pengantin baru lagi di mana pada saat-saat itu dalam hati sudah timbul rasa "biasa" dan tidak "luar biasa" terhadap pasangan dan kehidupan rumah tangga.
Masa-masa ketika sudah tidak lagi menjadi pengantin baru adalah masa-masa ujian. Ini yang (memang) sulit dan berat. Dibutuhkan kemauan yang kuat dan perjuangan yang berat untuk selalu menjadi “Pengantin Baru”. Sangat wajar dan alami jika ketika awal-awal mencoba melakukan tips di atas terasa aneh, merasa canggung dan malu. Namun jika dibiasakan, lama-lama akan menjadi bisa, menjadi biasa dan menjadi kebiasaan. Lain halnya ketika masih menjadi pengantin baru terutama ketika masa bulan madu, tanpa diajari dan disuruhpun, hal tersebut bisa, mudah, ringan dan otomatis dilakukan.
Wahai para suami! Wahai para istri! Sudahkah hari ini anda menjadi Libas bagi pasangan anda? Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan untuk menjadi Libas bagi belahan jiwa anda hingga nafas terakhir? Wahai para calon pengantin! Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan kelak akan menjadi Libas bagi pendamping hidup anda sejak malam pertama hingga malam terakhir (ketika maut menjemput)? Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pengantin lama, pengantin baru dan calon pengantin demi meraih kehidupan rumah tangga SAMARA (Sakinah Mawaddah wa Rahmah). Amin. Wallahu a’lam bishshowab.